KONSEP TUHAN MENURUT PARA FILSUF

Oleh Febri Vabiono P., 0906557120

1. Plato

Plato mengkolaborasikan ide Logos dengan idenya tentang Idea dan Dua Dunia. Plato mengajukan adanya dua dunia, yaitu utopia/ surga (dunia sempurna) dan dunia kita (dunia bayangan). Menurut Plato, sesuatu yang sempurna tidak mungkin memasuki sesuatu yang tidak sempurna. Lalu bagaimana Tuhan di surga (sempurna) berhubungan dengan dunia kita (tidak sempurna)? Di situ lah peran Logos sebagai penghubung antara Tuhan dengan ciptaan-Nya. Termasuk bahwa Tuhan juga menciptakan segala sesuatu melalui Logos. http://www.ladangtuhan.com/komunitas/(2Des.2009).

2. Aristoteles

Menurut Aristoteles, dalam proses perubahan yang bergerak dari materi menuju forma, mengandaikan adanya forma terakhir yang tidak dapat “dikeruhkan” lagi dengan materi (tidak dapat menjadi materi yang baru). Inilah forma terakhir (actus purus). Kalau demikian halnya, maka harus ada pula penggerak pertama yang tidak digerakkan. Penggerak pertama itu adalah forma yang tak bermateri, tujuan tertinggi yang menyebabkan semua gerak. Boleh disimpulkan bahwa seluruh kenyataan bergerak antara dua kutub abstrak yaitu materi yang tak berbentuk dan forma yang tak bermateri. Di sinilah kita dapat menyebutnya Tuhan.                                                                    Aristoteles mempercayai tentang adanya Tuhan, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit bahwa ada Tuhan yang memerintah dan memberi wahyu. Tuhan menurut Aristoteles lebih kepada suatu yang Agung sebagai menggerakan segala sesuatu. Aristoteles percaya bahwa segala sesuatu memiliki suatu tujuan. Sehingga sampailah pada kesimpulan bahwa dunia ini bertujuan. Tujuan gerak yang ada di alam semesta merupakan gerak yang bertujuan bukan untuk mencapai kesempurnaan, melainkan untuk menuju sang penggerak yaitu Aktus murni yang zaman sekarang biasa disebut sebagai Tuhan atau Allah. http://pormadi.multiply.com/journal/item/54/KONSEP_TUHAN_MENURUT_ARISTOTELES(2 Des. 2009), http://aprillins.com/filsafat-aristoteles(2 Des. 2009).

3. Spinoza

Salah satu gagasan yang diajukan oleh Spinoza dalam memahami realitas Yang absolut adalah Substansi Tak Terhingga atau Allah. Gagasan-gagasan Spinoza dalam mengungkap realitas yang Absolut ini banyak dipengaruhi oleh rasionalisme Descartes. Berkaitan dengan Substansi yang diajukan oleh Descartes, Spinoza melihat bahwa Descartes tidak memiliki sebuah komitmen yang akurat untuk mendefinisikan Substansi itu sendiri, karena dalam kenyataannya Descartes masih menerima adanya Substansi yang lain. Di sinilah Spinoza tidak setuju dengan gagasan yang disodorkan oleh Descartes. Tetapi, di sisi lain, Spinoza menerima gagasan yang disodorkan oleh Descartes yang mengatakan bahwa Substansi itu adalah sesuatu yang tidak membutuhkan yang lain, artinya bahwa Substansi itu adalah suatu realitas yang mandiri, otonom, utuh, satu dan tunggal.
Untuk memahami Substansi yang disodorkan oleh Descartes, Spinoza berpendapat bahwa Substansi itu  merupakan sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri atau sesuatu yang tidak membutuhkan aspek lain untuk membentuk dirinya menjadi ada. Jadi, dia itu berdiri sendiri dan membentuk dirinya sendiri. Itulah yang disebut sebagai causa prima non causata. Oleh karena itu, dalam tatanan ada (Primum Ontologicum), Substansi itu disebut sebagai yang pertama dan yang asali. Sedangkan dalam sistem kelogisan (Primum Logicum), Substansi merupakan realitas yang pertama dan yang Absolut. Dari sini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa dalam pandangan Spinoza hanya ada satu Substansi dan Substansi itu adalah itu” Dia yang Tak Terhingga” atau Allah. Konsep metafisika Spinoza terhadap Substansi sebagai realitas Yang Absolut mau memperlihatkan dengan jelas obyek penjelajahan refleksi metafisika terhadap realitas Ada yang paling tinggi dan sempurna, yaitu refleksi tentang Allah sebagai realitas yang Absolut, murni, tunggal dan sempurna.               Tetapi, selain Allah sebagai Substansi. Spinoza juga melihat Alam sebagai substansi. Dengan kata lain, dalam pandangan Spinoza Allah atau Alam adalah merupakan suatu kenyataan tunggal yang memiliki satu kesatuan. Pemahaman ini berangkat dari suatu pemahaman terhadap pembedaan antara Substansi yang oleh Spinoza disebut sebagai atribut-atribut dan modi. Modi adalah cara berada dari atribut-atribut dan secara tidak langsung adalah dari Substansi. Memang benar bahwa Spinoza mengakui hanya ada satu Substansi, tetapi di dalam Substansi itu terkandung atribut-atribut (sifat hakiki) yang tak terhingga jumlahnya. Namun, dari sekian banyak sifat hakiki itu hanya ada dua yang dapat diketahui oleh manusia, yaitu keluasan dan pemikiran (extensio dan cogitatio). Dalam hal ini, Spinoza melihat Allah sebagai keluasan (Deus est res extensa) dan pemikiran (Deus est res cogitans). Keluasan dan pemikiran merupakan dua hal yang memiliki substansi yang sama. Spinoza menggagas ini dalam ajarannya tentang Substansi tunggal yaitu Allah atau Alam (Deus Sive Natua). Menurut Spinoza, realitas Yang Absolut itu memiliki sifat yang abadi, tak terbatas, dan tunggal. Dari pemahaman seperti ini Spinoza melihat bahwa karena Allah adalah satu-satunya Substansi, maka segala sesuatu yang ada di bumi atau alam ini adalah berasal dari Allah. Di sinilah Spinoza terus menerus tenggelam dalam suatu refleksi tentang hubungan antara Allah dan manusia sebagai satu kesatuan. Maka, untuk sampai kepada Allah, Spinoza mengatakan bahwa perlu ada cinta. Cinta merupakan suatu bentuk pengenalan tertinggi terhadap Tuhan. Melalui cinta, Spinoza melihat bahwa kita dapat menerima segala sesuatu yang ada di alam, dan dengan demikian manusia menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan sebagai realitas Yang absolut. Berawal dari sinilah Spinoza disebut sebagai filsuf yang tenggelam dalam Tuhan. http://www.logon.org/indonesian/s/p017.html(30 Nov. 2009).

4. Hegel

Dalam pandangan Hegel, seluruh kenyataan merupakan suatu kejadian dan kejadian itu merupakan kejadian Roh. Dan Roh itu adalah “Dia yang Absolut” atau Allah. Menurut Hegel, Roh sebagai realitas Absolut sesungguhnya merupakan suatu ide yang melewati alam. Sekadar untuk diketahui bahwa dalam memahami alam, Hegel berbeda dengan Spinoza. Spinoza memahami alam sebagai satu Substansi yang memiliki satu kesatuan, sedangkan Hegel memahami alam sebagai satu tahap dalam kejadian Allah. Oleh karena itu, Hegel mengajukan bahwa dalam Roh mutlak itu terdapat Roh subyektif, yaitu subyek yang memiliki kesadran terhadap dirinya sendiri. Apa yang disebut sebagai Roh subyektif ini mengalami suatu perubahan menjadi Roh obyektif yang menciptakan suatu gambaran tentang hukum, moral, dan lain sebagainya. Karena Roh ini mengalami perubahan, maka puncak dari perkembangan Roh ini adalah Roh Absolut sebagai realitas yang sempurna. Di dalam Roh yang Aboslut ini, terkandung seni, agama, dan filsafat yang memiliki realitas Absolut atau Yang Tak Terhingga sebagai obyek perefleksiannya. Ketiganya merefleksikan yang Absolut itu dalam cara pandang yang berbeda-beda. Misalnya: seni memahami yang Absolut melalui pengamatan inderawi, yaitu melalui lukisan-lukisan. Melalui keindahan sebuah karya seni, Hegel melihat bahwa manusia dapat menunjukkan kemampuannya untuk memahami keindahan alam yang merupakan kesaksian sempurna terhadap fakta bahwa manusia dapat mengintuisi keindahan. Namun, alam hanyalah sebagai simbol yang ada dalam pikiran manusia, karena ada yang lebih indah dari alam, yaitu Allah sebagai realitas murni yang tak terbagi. Demikian juga agama mamahami Yang Absolut dalam imajinasi, yaitu melalui refleksi atau permenungan sehari-hari. Sedangkan filsafat memahami Yang absolut melalui rasionalitas atau pencarian akal budi manusia. Kendatipun ketiga unsur ini memiliki cara tersendiri untuk memahami Yang Absolut itu, namun mereka mempunyai obyek pengamatan yang sama, yaitu Allah sebagai realitas murni, tunggal, utuh dan tak terbatas.
http://www.logon.org/indonesian/s/p017.html(30 Nov.2009).

5. St. Thomas Aquinas

Dua pokok pengajaran St.Thomas Aquinas adalah Pertama, bukti-bukti tentang keberadaan Tuhan (supaya tahu bahwa Tuhan itu ada), dan Kedua, ajarannya mengenai analogi (supaya tahu beberapa sifat Tuhan). Thomas sendiri memberikan lima bukti tentang adanya Tuhan. Titik tolaknya adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak terbukti atau nyata dengan sendirinya kepada manusia. Itu menuntut bukti.

A. Bukti Adanya Tuhan

1. Bukti dari gerak yang ada di dunia jasmani ini

Sebagaimana suatu sebab dapat diketahui paling tidak sebagian melalui akibatnya, demikian pula Kausa Pertama alam semesta dapat diketahui melalui tatanan ciptaan. Setiap gerak di alam selalu memiliki sebab. Segala sesuatu yang bergerak pasti harus digerakkan oleh sesuatu yang lain. Hal ini juga berlaku untuk hal-hal yang menggerakkan dirinya sendiri, karena “hal yang menggerakkan dirinya sendiri” itu pun memiliki sebabnya. Artinya, ia digerakkan oleh sebabnya itu. Gerak dan menggerakkan itu tidak dapat berjalan tanpa batas sampai tak terhingga. Harus ada penggerak pertama. Penyebab atau penggerak pertama itu adalah Tuhan.

2. Bukti dari tertib sebab-sebab yang berdayaguna

Di dalam dunia yang diamati ini, tidak pernah ada sesuatu yang menjadi sebab yang menghasilkan dirinya sendiri. Karena seandainya hal itu ada, hal yang menghasilkan dirinya sendiri itu tentu harus mendahului dirinya sendiri. Hal ini tidak mungkin. Oleh karena itu, semua sebab yang berdayaguna menghasilkan sesuatu yang lain. Mengingat bahwa sebab yang berdayaguna itu juga tidak dapat ditarik hingga tiada batasnya, kesimpulannya harus ada sebab berdayaguna yang pertama. Sebab berdayaguna yang pertama itu adalah Tuhan.

3. Bukti dari keniscayaan segala sesuatu di dunia ini

Segala sesuatu yang ada di dunia ini dapat saja tidak ada. Jadi, pada saat ini juga bisa jadi tidak ada sesuatu. Padahal, apa yang tidak ada hanya dapat mulai berada jika diadakan oleh sesuatu yang telah ada. Jika segala sesuatu yang di dunia ini hanya mewujudkan kemungkinan saja, “ada” yang terakhir harus mewujudkan suatu keharusan (keniscayaan). Hal yang mewujudkan sesuatu keniscayaan ini “ada-nya” dapat disebabkan oleh sesuatu yang lain atau memang berada sendiri. Seandainya ia disebabkan oleh sesuatu yang lain, sebab-sebab itu tidak dapat ditarik hingga tiada batasnya. Oleh karena itu harus ada sesuatu yang perlu mutlak, yang tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Inilah Tuhan.

4. Bukti dari derajat-derajat dalam perwujudan nilai

Di dunia ini ada hal-hal yang lebih atau kurang baik, lebih atau kurang adil, benar, dst. Untuk menentukan derajat kebaikan, keadilan, dan kebenaran  tersebut kita mengukurnya dengan memakai yang terbaik, yang paling adil, dan yang paling benar sebagai ukurannya. Jadi, adanya yang terbaik diharuskan oleh karena adanya yang kurang baik, yang baik dan yang lebih baik. Oleh karena itu harus ada sesuatu yang menjadi sebab dari segala yang baik, adil, benar, mulia, dst. Yang menyebabkan semua itu adalah Tuhan.

5. Bukti dari finalitas (keterarahan pada akhir dan tujuannya)

Di dunia ini segala sesuatu yang tidak berakal berbuat menuju kepada akhirnya. Ini tampak dari cara hal-hal tak berakal itu berbuat, yaitu selalu dengan cara yang sama untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Jadi memang tidak secara kebetulanlah bahwa semua itu mencapai akhirnya. Mereka memang dibuat begitu. Yang tak berakal itu tidak mungkin bergerak menuju akhirnya jika tidak diarahkan oleh suatu tokoh yang berakal dan berpengetahuan, yaitu Tuhan.

Kelima bukti tersebut dapat menunjukkan bahwa Tuhan itu ada, bahwa ada suatu Tokoh yang menyebabkan segala sesuatu dan yang berada karena diri-Nya sendiri. Tetapi di samping itu, manusia dapat juga mengetahui sedikit tentang sifat-sifat Tuhan.

B. Ajarannya mengenai Analogi

Thomas memaparkan bahwa pada waktu kita membuat pernyataan-pernyataan tentang Tuhan, berarti kita sedang menggunakan bahasa secara agak khusus. Kata-kata itu tidak memiliki arti univocal (kesatuan suara) maupun equivocal (kesamaan suara). Dalam hal yang pertama, kata-kata kita akan berarti secara tepat sama kapan pun kita menggunakannya. Namun, pada waktu orang-orang Kristen berbicara mengenai Kristus sebagai Anak Domba Tuhan, mereka tidak berpikir tentang seekor binatang berkaki empat dan bebulu halus. Pada saat mereka menyebut Tuhan sebagai Bapa mereka, mereka tidak bermaksud berkata bahwa Dia adalah seorang manusia, berada di dalam waktu dan ruang, yang telah melahirkan anak-anak ke dalam dunia ini melalui proses kelahiran alamiah. Sebaliknya, orang-orang Kristen percaya bahwa mereka tidak sedang menggunakan bahasa secara equivocal, sehingga kata-kata mereka bermakna sesuatu pada tingkat atau level manusia, namun semua kata itu bermakna sesuatu yang berbeda sama sekali pada level agama.                                                                                                                                      Jika pernyataan-pernyataan agama termasuk kategori yang pertama, seorang akan menurunkan Tuhan ke tingkat objek atau ciptaan, yang berada di dalam waktu dan ruang. Kalau semua itu termasuk kategori yang kedua, bahasa agama akan tidak bermakna. Sebab apapun yang kita katakan, maksud kita akan agak berbeda dari kata-kata itu. Aquinas menjelaskan bahwa pernyataan sah tentang Tuhan adalah bersifat analogis. Dengan perkataan lain, waktu seorang Kristen menyebut Tuhan sebagai Bapa, Dia tidak sepenuhnya menyerupai dan juga tidak sepenuhnya berbeda dengan apa yang terbaik dalam bapak-bapak manusia, tapi ada hal yang benar-benar mirip.                                                                Ketiga jalan manusia untuk dapat mengenal Tuhan didasarkan pada hal tersebut, bahwa ada sekaligus kesamaan dan perbedaan dalam cara berada antara Tuhan dan makhluk-Nya. Analogi ini bukan mengenai perkara-perkara yang sampingan, melainkan mengenai perkara paling hakiki yaitu mengenai ada-nya Tuhan dan ada-nya makhluk (analogia entis). Di satu pihak analogi ini menunjuk kepada adanya jarak tak terhingga antara Tuhan dan makhluk, di lain pihak analogi ini juga menunjukkan bahwa para makhluk itu sekadar menampakkan kesamaannya dengan Tuhan.  Berdasar analogi entis ini Thomas melukiskan ketiga jalan yang harus ditempuh bila mau memperoleh pengetahuan tentang Tuhan.

1.  Via Positiva atau Via Affirmativa

Mengingat “analogia entis” yang berarti bahwa ada kesamaan antara Tuhan dan makhluk (Tuhan memberikan kebaikan-Nya juga kepada makhluk), dapat dikatakan bahwa segala sesuatu yang bersifat baik pada makhluk dapat juga dikenakan kepada Tuhan.

2. Via Negativa

Sebaliknya juga harus dikatakan, mengingat bahwa “analogia entis” pun mengimplikasikan perbedaan antara Tuhan dan makhluk, bahwa segala yang ada pada makhluk tidak berada pada Tuhan dengan cara yang sama.

3. Via Eminentiae

Apa yang baik pada makhluk tentu berada pada Tuhan dengan cara yang jauh melebihi keadaan para makhluk, bahkan tak terhingga jauhnya kelebihan tersebut.

Thomas juga mempertahankan bahwa Tuhan bebad dalam menciptakan dunia. Untuk melawan teori emanasi dari filsuf-filsuf Neo-Platonis yang menganggap dunia mengalir dari Tuhan bagaikan air yang mengalir dari sumbernya, Thomas memgemukakan ajaran tentang creatio ex nihilo, “penciptaan dari yang tidak ada”. Dengan ajaran ini Thomas mau menekankan dua hal. Pertama, dunia tidak diadakan dari semacam bahan dasar yang sudah tersedia, entah bahan itu Tuhan sendiri (melawan panteisme) entah bahan itu merupakan sebuah prinsip kedua di samping Tuhan (melawan dualisme). Ciptaan-ciptaan menurut adanya adalah tergantung pada Tuhan, dan bukan menurut salah satu aspeknya saja. Kedua, penciptaan tidak terbatas pada satu saat saja seakan-akan sesudah saat itu dunia tidak tergantung lagi pada Tuhan Pencipta. Sebaliknya, penciptaan adalah perbuatan Tuhan yang terus-menerus (creation continua atau conservatio). Dengan perbuatan penciptaan itu, Tuhan terus-menerus menghasilkan dan memelihara segala yang bersifat sementara. http://poldem.co.cc/tag/plato/(28 Nov. 2009).

6. Al Ghazali

Tuhan yang dikonsepsikan oleh Al-Ghazali adalah Tuhan yang tahu segala hal-hal yang partikular dalam kehidupan manusia dan Tuhan yang selalu ikut campur dalam persoalan-persoalan keseharian manusia, dari mencari jodoh hingga menentukan kepemimpinan negara. Manusia dalam relasinya dengan Tuhan seperti ini adalah manusia yang selalu tampak tidak pernah mampu mengoptimalkan rasionalitasnya untuk hidup ke arah yang lebih baik. Manusia yang menganut konsep Tuhan seperti ini adalah manusia yang tidak bebas, ia meyakini determinasi-determinasi yang mengekang nalar dan potensi-potensinya sendiri. Memang Tuhan dalam konsepsi Ghazalian ini adalah Tuhan yang menenteramkan secara psikologis, menjadi pegangan ketika seseorang terperangkap dalam kegagalan dan keputusasaan, Tuhan seperti ini mungkin bisa dianalogikan dengan obat sakit kepala ketika seseorang menjadi pusing ketika ia menghadapi banyak persoalan yang seakan tak punya jalan keluar. Tetapi Tuhan Ghazalian sendiri adalah Tuhan yang selalu menjadi terdakwa ketika manusia tertimpa bencana alam. Manusia dengan pandangan ketuhanan seperti ini akan dengan mudah menunjuk Tuhan sebagai penyebab dari bencana yang menimpanya, Tuhan telah menakdirkan, ini suratan Tuhan, dan sebagainya. Tetapi ketika ia berbuat dosa dan ingin meminta ampun dari Tuhan maka manusia seperti ini akan menjadikan setan sebagai terdakwa. Manusia ini akan memandang bahwa akal sehat manusia adalah terbatas, dan produk-produk ciptaan akan manusia harus diletakkan di bawah wahyu Tuhan.
http://www.averroes.or.id/thought/konsep-kekuasaan-dalam-ilmu-ilmu-sosial.html(28 Nov. 2009).

7. Ibnu Rusyd(Averroes)

Tuhan yang dikonsepsikan oleh Averroes adalah Tuhan yang tidak mengetahui hal-hal yang partikular. Tuhan yang tidak tahu (tidak mau tau) hal-hal yang menjadi pergumulan keseharian manusia, apakah persoalan pribadi atau tatanan alam setelah ia menciptakannya. Tuhan Averroes adalah Tuhan yang hanya mengurus hal-hal yang general seperti penciptaan alam dan penetapan hukum-hukum alam yang menjaga keseimbangan alam dan makhluk yang hidup di dalamnya. Manusia dalam relasinya dengan Tuhan ala Averroes adalah manusia yang otonom dan manusia yang menjadi pengganti Tuhan di bumi, karena manusia telah dianugrahi Tuhan dengan akal sehat dan rasionalitas yang akan membimbingnya ke arah kehidupan yang lebih baik. Di sini kita tidak merujuk kepada akal atau rasionalitas seorang yang terbelakang mental misalnya, tetapi rasionalitas dalam pencapaiannya yang paling tinggi dari seorang manusia atau secara kolektif. Manusia seperti ini akan mampu untuk memahami yang mana yang universal dan yang mana yang temporer dalam kitab suci, yang mana yang menjadi pesan moral lintas zaman di dalam kitab suci dan yang mana yang hanya merupakan bungkus luar yang merupakan produk kultural yang turut masuk ke dalam uraian kitab suci. Ia mampu mengaktualisasikan segenap potensi akal sehat yang ia miliki, karena ia meyakini bahwa Tuhan tidak akan turut campur dalam urusan-urusan yang ia telah jalani atau akan jalani. Jika ia menghadapi bencana, maka ia akan langsung mengontrospeksi dirinya dan perbuatan manusia lain, atau mekanisme alam, dan tidak menunjuk Tuhan sebagai terdakwa atau penyebab terjadinya bencana.
http://www.averroes.or.id/thought/konsep-kekuasaan-dalam-ilmu-ilmu-sosial.html(28 Nov. 2009).

8. Moses Maimonides

Maimonides mengatakan bahwa kita tidak bisa membuat pernyataan yang benar tentang Tuhan. Semua yang kita katakan tentang  Tuhan akan membatasi dan mereduksi Dia. Kalau kita katakan Tuhan sebagai zat yang bijaksana, atau lebih bijaksana daripada apapun kita bisa membayangkan, kita masih tetap membatasi-Nya, karena ada keterbatasan konsepsi kita mengenai kebijaksanaan, padahal Dia jauh lebih bijaksana dari batas tersebut. Maimonides menegaskan bahwa kita mestinya hanya bicara dari segi negatifnya. Kita bisa bicara secara akurat tentang apa yang bukan Tuhan. Kita bisa katakan bahwa Tuhan itu tidak kekurangan kebijaksanaan atau kekuataan, atau kemampuan yang lainnya.  Pandangan Maimonides sangat mempengaruhi semua pemikiran Yahudi belakangan. Walaupun dia sangat menderita dengan serangan kaum Muslim fanatik yang muncul dari kampanye-kampanye Almohad, dia menegaskan bahwa konsepsi Islam mengenai Tuhan merupakan monoteisme yang benar, sebuah pujian yang tidak dia katakan kepada agama lain.                                                                                                                 Konsep-konsep yang paling penting dan bermanfaat yang kita harus memahami untuk berhubungan dengan Tuhan, diambil dari Kitab Suci dan ajaran-ajaran dari Rabi Talmud: fakta mengenai keberadaan-Nya, kesempurnaan-Nya, kebutuhan pada keberadaan-Nya, kebebasan multak-Nya, kesederhanaan-Nya, dan kesatuan-Nya. Gagasan-gagasan ini sangat penting bagi orang Yahudi dalam berhubungan dengan Tuhan. Karena Tuhan sempurna, tidak ada yang perlu ditambahkan kepada-Nya, tidak ada yang bisa membuatnya lebih baik atau lebih sempurna. Ini berarti bahwa semua yang diperintahkan Tuhan kepada kita tidak lain adalah untuk kepentingan kita sendiri, bukan karena Dia membutuhkan itu. Jika kita mematuhi Perintah-perintah dan keinginan-Nya, kitalah yang akan menerima manfaatnya, bukan Dia.

http://indonesian.askmusa.org/site/c.frLMK2PHLqF/b.2803565/k.CC2C/Tuhan.htm(28 Nov. 2009).

9. Xenophanes

Xenophanes mengatakan bahwa ada Tuhan yang satu, jauh lebih akbar dari segala dewa dan manusia, tidak memiliki bentuk atau fikiran seperti manusia yang fana. Dia itu maha melihat, maha berfikir, maha mendengar. Hanya saja manusia membayangkan dewa-dewa dilahirkan dan berpakaian serta memiliki suara dan tubuh seperti diri mereka sendiri. Ucapan Xenophanes itu sebagai sanggahan atas pendekatan bangsa Yunani tentang sesembahan mereka yang dirasanya kurang rasional. Ia beranggapan bahwa semua mahluk bisa melihat Tuhan menurut citra mereka sendiri dan dengan cara itu manusia telah mencipta suatu mithologi yang kompleks dengan memfitratkan bentuk manusia dan kelemahan-kelemahannya kepada wujud Tuhan sebagaimana katanya: “Jika sapi, kuda atau pun singa memiliki tangan, atau mampu menggambar dengan kakinya serta menghasilkan imajinasi sebagaimana yang dilakukan manusia maka kuda akan menggambar dewa berbentuk kuda, sapi seperti sapi, dimana mereka akan menggambar bentuk tubuh dewanya sama dengan bentuk tubuh mereka sendiri.” Sebenarnya Xenophanes sedang berusaha menunjukkan bahwa Tuhan adalah sosok maha kuasa yang tidak terikat pada bentuk dan fitrat yang bisa kita lihat atau bayangkan.

http://persatuan.web.id/?p=196(28 Nov. 2009).

DAFTAR PUSTAKA

Hadiwijono, Dr. Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat I. Penerbit Kanisius: Yogyakarta. 2005.

Delfgaauw, Bernard. Sejarah Ringkas Filsafat Barat. Penerjemah: Soejono Soemargono.                   PT Tiara Wacana Yogya: Yogyakarta. 1992.

3 Comments »

  1. mayang Said:

    Keren Feb, apalagi kalau bisa menambahkan image para filsuf tersebut ya. Pasti lebih menarik.

    • febripasaribu Said:

      ia Mbak, fotonya tidak bisa dikopi.

      • inggriani Said:

        iya, saya punya juga


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: