KAJIAN PARA FILSAFAT MENGENAI FILSAFAT AKAL (RASIO)

Oleh Dejarina Damayanti 0906489233

Rasionalisme adalah pendekatan filosofis yang menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului, tunggal dan bebas (terlepas) dari pengamatan indrawi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa rasionalisme mempercayai bahwa akal (rasio) dapat mencapai kebenaran tanpa bantuan indrawi. Penganut paham rasionalis juga mempercayai bahwa rasa (sense) tidak dapat memberikan ataupun membawa kita kepada kebenaran yang universal.

Rene Descartes (1596 – 1650) dianggap sebagai pendiri filsafat modern dan Bapak rasionalisme. Menurut Descartes, pengetahuan indrawi bersifat kabur dan samar serta tidak memberikan gambaran dan hakekat tentang dunia diluar. Karena itu (menurut Descartes) kita harus meragukan pengamatan indrawi kita.

Teori falsafi “cogito” (Cogito Ergo Sum) Descartes mempunyai dua makna penting, yaitu : Pertama, dia meletakkan pusat sistem filsafatnya pada persoalan epistimologi yang paling fundamental, yaitu “apakah asal mula pengetahuan manusia itu?”. Kedua, Descartes menganjurkan, kita harus bergerak/memulai dengan keraguan, bukan dengan kepercayaan. (ini merupakan kebalikan sepenuhnya dari sikap St. Agustinus, dan umumnya teolog abad pertengahan yang lebih mendahulukan kepercayaan).

Pada tahun 1637, Descartes menerbitkan bukunya yang termasyhur yang berjudul “Discourse on the Method for Properly Guiding the Reason and Finding Truth in the Sciences” yang bisaanya disingkat dengan “Discourse on the Method”. Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Prancis dengan judul “Discours de la Methode” (uraian tentang metode) dan sengaja ditulis dalam bahasa Prancis (bukan dalam bahasa Latin) dengan tujuan agar semua kalangan intelegensia dapat membacanya walaupun mereka tidak mendapatkan pendidikan skolastik.

Disamping mengkritik pendidikan pada masa itu yang masih didominasi oleh Scholasticism, dalam buku ini, Descartes juga memperkenalkan metode baru, yang menurutnya, harus menjadi dasar bagi seluruh pendidikan dan riset sains serta filsafat. Metode itu ialah :

  1. Tidak menerima sesuatu sebagai kebenaran, jika tidak dapat dijelaskan secara rasional.
  2. Menganalisa ide-ide yang kompleks dengan menyederhanakannya dalam elemen yang konstitutif, dimana rasio dapat memahaminya secara intuitif.
  3. Me-rekonstruksi, dimulai dari ide yang simple dan bekerja secara sintetis kebagian yang kompleks.
  4. Membuat sebuah enumerasi yang akurat dan lengkap dari data permasalahan, dengan menggunakan langkah-langkah, baik yang deduktif maupun yang induktif.

Selain menawarkan metode baru bagi dunia pendidikan, sains dan filsafat, buku ini (discours) juga memuat tiga essai sebagai tambahan dilengkapi dengan contoh-contoh dari penelitian ilmiah yang telah dilakukannya, yaitu pertama adalah masalah optik, Descartes menjelaskan hukum pelengkungan cahaya. Dia juga mempersoalkan masalah lensa dan berbagai alat-alat optik, melukiskan fungsi mata dan berbagai kelainan-kelainannya serta juga menggambarkan teori cahaya. Kedua masalah meteorology, dia membicarakan masalah awan, hujan, angin, serta penjelasan yang tepat mengenai pelangi. Adapun yang ketiga adalah masalah geometri, Descartes mempersembahkan sumbangan yang paling penting, yaitu penemuannya tentang geometri analitis, yang merupakan langkah kemajuan yang besar di bidang matematika dan menjadi jalan buat Newton menemukan kalkulus.

Tokoh rasionalisme selain Descartes adalah Baruch Spinoza (1632 – 1677). Bagi Spinoza, tidak ada hal yang tidak dapat ditembus oleh rasio (akal) manusia, karena ia (akal) mencakup segalanya. Kehendak manusia adalah sama dengan pikirannya. Karena inilah rasionalisme Spinoza dianggap lebih luas dan lebih konsekuan dari Descartes.

Menurut Lorens Bagus, ada beberapa pokok ajaran dari Rasionalisme, yaitu:

– Dengan proses pemikiran abstrak kita dapat mencapai kebenaran fundamental, yang tidak dapat disangkal tentang apa yang ada dan juga tentang alam semesta pada umumnya.

– Realitas dapat diketahui tanpa tergantung pada pengamatan, pengalaman ataupun empirisme.

–  Pikiran mampu mendahului pengalaman tentang mengetahui realitas.

– Akal budi (rasio) adalah sumber utama pengetahuan dan Ilmu pengetahuan pada dasarnya bisa dipahami secara rasional.

– Kebenaran tidak diuji dengan prosedur verifikasi-indrawi, tetapi dengan kriteria konsistensi logis.

– Metode rasional (deduktif, logis, matematis, inferensial) dapat diterapkan pada materi apapun dan dapat memberi kita penjelasan yang memadai.

–  Kepastian mutlak dapat dicapai dengan pikiran murni.

– Hanya kebenaran-kebenaran yang timbul dari akal budi (rasio) saja yang bisa dikatakan benar, pasti dan nyata. Sedangkan yang lainnya adalah keliru.

– Alam semesta (realitas) mengikuti hukum-hukum dan rasionalitas logika.

– Segala sesuatu dari alam semesta dapat dideduksi dari prinsip-prinsip atau hukum-hukum logika.

DAFTAR PUSTAKA

Whitehead, Alfred North. Epistemologi dan Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Kanisius, 2001.

http://peperonity.com/go/sites/mview/ab0utl0ve/16429605

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: