Tradisi Kampung Naga Sebagai Wujud Multikulturalisme di Indonesia

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI…………………………………………………….ii
ABSTRAK………………………………………………………..iii

Bab 1 PENDAHULUAN……………………………………….1
1.1 Latar Belakang……………………………………………..1
1.2 Perumusan Masalah dan Ruang Lingkup……………1
1.3 Tujuan…………………………………………………………2
1.4 Metode Penulisan………………………………………….2
1.5 Sistematika Penulisan…………………………………….2

Bab 2 PEMBAHASAN…………………………………………..4
2.1 Ciri Ekologis…………………………………………………..4
2.2 Tata Ruang dan Arsitektur Bangunan………………….6
2.3 Pola Kehidupan Masyarakat………………………………7
2.4 Upacara Adat………………………………………………….8

Bab 3 PENUTUP…………………………………………………….10
3.1 Kesimpulan……………………………………………………..10
3.2 Saran………………………………………………………………10

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………11

ABSTRAK

Seluruh daerah yang ada di Nusantara ini pasti memiliki ciri khasnya masing – masing. Demikian juga halnya dengan Kampung Naga. Yang menjadi latar belakang dari makalah ini adalah usaha dari masyarakat Kampung Naga untuk mempertahankan kebudayaannya di tengah arus globalisasi dan modernisasi. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah menyajikan informasi mengenai sistem nilai, tradisi, dan kesenian dari masyarakat Kampung Naga. Metode yang digunakan dalam mendapatkan berbagai informasi adalah studi kepustakaan. Simpulan yang dapat diambil adalah setiap kebudayaan yang ada di Nusantara ini telah memperkaya sistem budaya nasional kita, oleh sebab itu sudah seharusnya kita turut serta dalam melestarikannya sehingaa tidak tergeser oleh nilai – nilai yang baru.

Kata Kunci : Budaya ;Kampung Naga ; multikulturalisme ; tradisi.

BAB 1
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Dewasa ini banyak kebudayaan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang mulai dilupakan oleh masyarakat setempatnya, terutama di kawasan pusat pemerintahan. Sebagai contoh, Sambrah, kesenian Betawi serta Tari Kretek, kesenian Kudus. Kampung Naga berlokasi tidak jauh dari pusat pemerintahan Kebupaten Tasikmalaya dan Garut sehingga mereka mengalami interaksi yang intensif dengan masyarakat luar yang dapat membawa pengaruh bagi penduduk di Kampung Naga. Namun, masyarakat setempat telah membuktikan bahwa dirinya mampu mempertahankan tradisi warisan leluhurnya dari pengaruh – pengaruh luar tersebut tanpa mengisolasikan diri mereka. Prinsip – prinsip leluhur yang diwariskan ternyata memiliki kearifan sistem pengetahuan lokal tentang penyelarasan hubungan alam dan lingkungan yang sering dikesampingkan oleh manusia modern.

2. PERUMUSAN MASALAH DAN RUANG LINGKUP

1. Mengapa hingga sekarang masyarakat Kampung Naga menolak aliran listrik dari pemerintah?
2. Apa saja yang menjadi keunikan Kampung Naga?

Ruang lingkup dari makalah ini hanya sebatas penjelasan yang menjawab pertanyaan dari perumusan masalah yang dipilih dengan menyertakan beberapa informasi yang berhubungan.

3. TUJUAN

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai kebudayaan serta cara hidup dari masyarakat Kampung Naga yang menjadikannya unik di mata para wisatawan masyarakat luar yang memperkaya kebudayaan Indonesia yang menjunjung multikulturalisme.

4. METODE PENULISAN

Metodologi penulisan yang digunakan dalam makalah ini adalah studi kepustakaan dengan cara membaca buku referensi dan bahan – bahan online dari internet untuk memperoleh pengetahuan yang berkaitan dengan topik makalah.

5. SISTEMATIK PENULISAN

Sistematika penulisan makalah ini dibuat dengan membagi tiap kelompok pembahasan menjadi bab dan sub bab. Berikut ini adalah susunan bab dan keterangan singkatnya :

Bab 1 : Pendahuluan
Pada bab ini akan dijelaskan tentang latar belakang penulisan, perumusan masalah, tujuan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab 2 : Pembahasan
Adapun pada bab ini akan dipaparkan berbagai informasi yang didapat dari studi kepustakaan serta jawaban perumusan masalah dari topik makalah ini.
Bab 3 : Penutup
Bab ini merupakan bagian terakhir dari makalah, berisi kesimpulan yang diperoleh dari pembahasan mengenai topi dan saran bagi pembaca

BAB 2
PEMBAHASAN

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, pengertian kampung adalah desa, dusun atau kelompok rumah-rumah yang merupakan bagian kota dan biasanya rumah-rumahnya kurang bagus. Kamus Tata Ruang mendefinisikan kampung sebagai kelompok rumah yang menempati wilayah tertentu dan merupakan bagian dari kecamatan, sedangkan kampung etnis adalah kawasan permukiman kota yang lama dengan kekhasan tradisi, biasanya terdiri atas kelompok tertentu yang didasarkan pada persamaan adat, agama, atau kebudayaan. Kampung Naga merupakan salah satu ”kampung” yang bercirikan pada persamaan adat dan agama yang menempati wilayah di Kabupaten Tasikmalaya.
Kampung Naga merupakan perkampungan tradisional dengan luas area kurang lebih 4 ha. Lokasi Kampung Naga terletak pada ruas jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya – Bandung melalui Garut, yaitu kurang lebih pada kilometer ke 30 ke arah Barat kota Tasikmalaya. Secara administratif Kampung Naga termasuk kampung Legok Dage Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya (http://www.tasikmalayakab.go.id/content/view/23/26/).

1. CIRI EKOLOGIS

Dalam sejarah tataran Sunda, memegang teguh adat adalah hal mutlak bagi setiap warganya dan hal ini masih dapat ditemukan pada masyarakat Kampung Naga. Mungkin secara teknologi mereka tertinggal jauh. Akan tetapi, mereka telah membuktikan bahwa tradisi tradisional Sunda yang dipegang teguh memiliki kekuatan yang unik dalam menciptakan kehidupan manusia yang seimbang dengan ekosistem alam.
Masyarakat setempat memiliki kesetiaan terhadap wilayah fisik tempat tinggalnya, sehingga secara ekologis, Kampung Naga memiliki empat cirri ekologis yang hingga kini masih tetap dipertahankan (Soeriaatmadja, 2001).
Ciri ekologis pertama adalah rona lingkungan hidup biogeofisik kampung tersebut berbeda dari kampung masyarakat Sunda lainnya. Pada daerah yang letaknya di sebelah hulu yang berbentuk punggung bukit, wilayah tersebut merupakan hutan alam yang relatif masih utuh, sehingga fungsi hidro-orologinya masih berperan baik sebagai sumber daya air. Sedangkan, bagian punggung bukit yang bersebelahan dengan pemukiman, ditanami berbagai jenis pohon. Hutan bagi warga Kampung Naga berfungsi sebagai “bank pangan” dan juga “apotek hidup” karena pohon – pohon tersebut menghasilkan berbagai sumber daya yang dibutuhkan warga untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, baik makanan, obat – obatan, dan produk kerajinan tangan.
Ciri ekologis yang kedua, hutan berfungsi sebagai penyangga lereng dan bukit dari kemungkinan terjadinya longsor atau banjir pada musim hujan. Dan sebaliknya, kekeringan pada musim kemarau.
Ciri ekologis ketiga adalah keanekaragaman sumber daya alam hayati. Berdasarkan penelitian Sri Hayati, di Kampung Naga terdapat lebih dari 39 jenis tanaman dan tumbuhan yang dipelihara oleh masyarakat. Ada 10 kultivar jenis padi, 13 kultivar ubi kayu, dan 39 kultivar pisang. Berbagai jenis tanaman tersebut dapat dijumpai di sawah, pekarangan atau kebun. Selain digunakan sebagai bahan pangan dan obat, ada beberapa daun tanaman yang digunakan dalam upacara ritual.
Ciri ekologis yang keempat masyarakat Kampung Naga adalah kawasan yang dijadikan permukiman, termasuk bentuk bangunan, bahan yang digunakan, dan pembagian kawasannya yang mengandung nilai – nilai filosofis.

2. TATA RUANG DAN ARSITEKTUR BANGUNAN

Pola perkampungan masyarakat Naga tidak berbeda dengan pola lingkungan masyarakat Sunda di daerah pedesaan lainnya yang terdiri dari 3 elemen penting, yakni rumah sebagai tempat tinggal, sumber air, kebun serta kolam pemeliharaan ikan. Akan tetapi tata ruang Kampung Naga terbagi lagi menjadi tiga kategorisasi kawasan, yaitu :
a. Kawasan Suci, yaitu kawasan berupa bukit kecil yang tidak dapat dikunjungin oleh sembarang orang. Bukit tersebut merupakan hutan yang ditumbuhi oleh pohon – pohon tua (leuweung larangan) serta menjadi tempat pemakaman leluhur. Tidak jauh dari sana terdapat pekuburan penduduk Kampung Naga.
b. Kawasan Bersih, yaitu kawasan permukiman warga. Selain tempat berdirinya rumah – rumah pendudukan, di kawasan ini juga terdapat lumbung (leuit), balai pertemuan (bale patemon), mesjid, dan Bumi Ageung (tempat menyimpan benda pusaka).
c. Kawasan Kotor, yaitu kawasan tempat berdirinya bangunan – bangunan penunjang, seperti tempat pancuran untuk mandi dan mencuci, kolam, dan saung lisung, gubuk untuk menumbuk padi.
Salah satu hal yang menjadi daya pikat dari Kampung Naga adalah bentuk bangunannya yang seragam dan tersusun rapi dengan menghadap hanya ke arah Utara atau Selatan. Seluruh bangunan yang ada di sana berbentuk rumah panggung karena masyarakat memegang konsep bahwa, tempat tinggal manusia bukanlah di “dunia bawah”, yakni tanah. Tetapi, tempat manusia yang masih hidup juga bukan “dunia atas”, karena “dunia atas” adalah langit. Karena itu, rumah sebagai tempat tinggal mereka harus berada di “dunia tengah” (Suhandi,1991/1992: 49). Bahan – bahan yang digunakan untuk membuat setiap bangunan pun sama satu dengan yang lainnya. Dinding terbuat dari anyaman bambu (bilik) yang memiliki makna sosial, gotong royong, serta atap yang terbuat dari ijuk. Seluruh bangunan tidak ada yang menggunakan bahan kimia agar dapat mempertahankan sifat alami bangunan rumah.

3. POLA KEHIDUPAN MASYARAKAT

Keunikan dari masyarakat Kampung Naga juga tercermin dalam perilaku kehidupan sehari – hari maupun dalam upacara – upacara ritual yang bermuara pada tujuan untuk menjaga tanah warisan leluhur. Dalam kehidupan sehari – hari, ada beberapa hal yang dianggap tabu oleh masyarakat setempat dan dipercayai akan mendatangkan malapetaka yang tidak terduga jika pantangan tersebut dilanggar. Misalnya, ketika mereka mengangkut barang, seberat apapun barang tersebut, mereka tidak boleh menggunakan kendaraan atau alat angkut apapun. Barang – barang bawaan mereka, seberat apapun harus dipikul atau dipanggul di atas bahu. Pantangan serupa bagi mereka untuk tidak menggunakan hewan penghela atau penarik beban seperti kuda atau sapi. Karena itu, kedua hewan tersebut termasuk tabu dipelihara di Kampung Naga (Suganda,2006 : 21-22).
Di Kampung Naga, listrik adalah hal yang tidak diperbolehkan. Kehadiran alat – alat elektronik pun ditabukan oleh masyarakat setempat. Seandainya pun ada, hanya televisi hitam putih yang menggunakan tenaga aki. Hal ini didasari oleh beberapa alasan. Pertama, untuk menghindari timbulnya kecemburuan sosial karena tidak semua penduduk dapat membeli alat – alat elektronik. Kedua, menghindari terjadinya kebakaran yang disebabkan oleh arus pendek listrik karena seluruh bangunan di kampung terbuat dari bambu, kayu, dan beratapkan ijuk yang mudah terbakar. Ketiga, menurut mereka media elektronik dapat melemahkan mental anak – anak dan melemahkan adat istiadat yang ada.
Walaupun masyarakat Kampung Naga sangat membatasi budaya modern yang masuk dan selalu menjunjung tinggi adat istiadat, akan tetapi para kuncen (kepala adat) tidak melarang warganya untuk menuntut ilmu di luar areal perkampungan, dengan syarat, ketika mereka kembali harus tetap mengikuti adat istiadat yang ada.

4. UPACARA ADAT

Kultur budaya dan adat istiadat yang kental dari suatu daerah tidaklah lengkap tanpa upacara – upacara adat yang unik dan bersifat sakral. Kampung Naga memiliki beberapa upacara adat yang menarik dan sering diselenggarakan, sebagai berikut : (http://www.explore-indo.com/alam/234-kampung-naga-uniknya-bersatu-dengan-alam.html)

Upacara menyepi dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga pada hari Selasa, Rabu, dan Sabtu. Upacara ini menurut pandangan masyarakat Kampung Naga sangat penting dan wajib dilaksanakan, tanpa kecuali baik pria maupun wanita. Pelaksanaan upacara menyepi diserahkan pada masing-masing orang, karena pada dasarnya merupakan usaha menghindari pembicaraan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat. Melihat kepatuhan warga Naga terhadap aturan adat, selain karena penghormatan kepada leluhurnya juga untuk menjaga amanat dan wasiat yang bila dilanggar dikuatirkan akan menimbulkan malapetaka.
Upacara Hajat Sasih dilaksanakan oleh seluruh warga adat Sa-Naga, baik yang bertempat tinggal di Kampung Naga Dalam maupun di Kampung Naga Luar. Upacara Hajat Sasih merupakan upacara ziarah dan membersihkan makam leluhur. Maksud dan tujuan dari upacara ini adalah untuk memohon berkah dan keselamatan kepada leluhur Kampung Naga, Eyang Singaparna serta menyatakan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah diberikan kepada seluruh warga. Pemilihan tanggal dan bulan untuk pelaksanaan upacara Hajat Sasih dilakukan bertepatan dengan hari-hari besar agama Islam. Penyesuaian waktu tersebut bertujuan agar keduanya dapat dilaksanakan sekaligus, sehingga ketentuan adat dan kaidah agama Islam dapat dijalankan secara harmonis.
Upacara perkawinan bagi masyarakat Kampung Naga adalah upacara yang dilakukan setelah selesainya akad nikah secara Islam. Upacara ini dilaksanakan dengan sangat sakral mulai dari penentuan tanggal baik untuk perayaan sampai dengan resepsi berakhir. Adapun tahap-tahap dalam upacara perkawinan tersebut adalah sebagai berikut: upacara sawer, nincak endog (menginjak telur), buka pintu, ngariung (berkumpul), ngampar (berhamparan), dan diakhiri dengan munjungan (sungkeman).
Walaupun kehidupan masyarakat Kampung Naga terlihat begitu tradisional, namun mereka telah membuktikan diri bahwa dengan menjunjung tradisi warisan leluhurnya, masyarakat setempat dapat menikmati kehidupan yang sederhana dan rukun satu sama lain.

BAB 3
PENUTUP

1. KESIMPULAN

Kampung Naga yang tetap berpegang teguh dengan tradisi warisan leluhur telah membuatnya memiliki beberapa keunikan, baik dalam upacara adat, pola kehidupan sampai dengan penataan ruang dan gaya arsitektur bangunannya.
Jika sampai saat ini masyarakat Kampung Naga tidak menerima aliran listrik dari pemerintah, hal ini tentunya memiliki alasan yang kuat yang menurut mereka dapat berdampak buruk bagi kebudayaannya dan dapat pula membahayakan nyawa dari warganya.

2. SARAN

Kampung Naga tentunya telah berusaha keras untuk mempertahankan tradisi adat istiadatnya di tengah arus globalisasi dan mereka telah membuktikan bahwa dirinya mampu. Sekarang adalah kita untuk turut serta melestarikan kebudayaan mereka dan kebudayaan Nusantara lainnya dengan memperkenalkannya kepada generasi – generasi secara turun temurun karena kebudayaan – kebudayaan inilah yang telah memperkaya khasanah budaya Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Suganda, Her. 2006. Kampung Naga Mempertahankan Tradisi. Bandung : Kiblat Buku Utama

Soeriaatmadja, R.E. 2001. Makna Ekologis dalam Lingkungan Hidup “Masyarakat Sunda Tardisional Kampung Naga” di Jawa Barat. Makalah pada Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS). Bandung.

Suhamihardja, Suhandi A., Yugo Sriyun. 1991-1992. Kesenian, Arsitektur Rumah dan Upacara Adat Kampung Naga, Jawa Barat. Proyek Pembinaan Kebudayaan, Ditjen Kebudayaan, Depdikbud Jakarta.

http://www.indotoplist.com/info/ZEc5d1BTWjBiM0JyWVhROUptMWxiblU5WkdWMFlXbHNKbWx1Wm05ZmFXUTlNalkxSm0xMWJHRnBQVEFtY0doaGJEMD0= ( 13 – 11 – 2009, 15:37 )
http://navigasi.net/goart.php?a=bukmpag ( 13 – 11 – 2009, 15:41)
http://www.tasikmalayakab.go.id/content/view/23/26 ( 13 – 11 – 2009, 15:47 )
http://www.resep.web.id/traveling/kampung-naga-wisata-budaya-penuh-keunikan.htm ( 13 – 11 – 2009, 15:58 )
http://202.146.5.33/kompas-cetak/0709/28/daerah/3854493.htm ( 14 – 11 – 2009, 09:18 )
http://www.explore-indo.com/alam/234-kampung-naga-uniknya-bersatu-dengan-alam.html ( 14 – 11 – 2009, 09:46 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: