LTM 3

AGAMA, TRADISI DAN BUDAYA DALAM MULTIKULTURALISME INDONESIA

Oleh Indah Nur Zahra, 0906489271

Judul : AGAMA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA: PENGANTAR ANTROPOLOGI AGAMA

Pengarang : Bustanuddin Agus

Data Publikasi : Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006

Agama dalam kehidupan manusia sudah ditemukan dari pertama masyarakat manusia ada, sampai dewasa ini dan masa yang akan datang. Keberadaan agama dalam sistem sosial budaya adalah objek yang menjadi perhatian utama dalam antropologi agama. Kehidupan beragama memiliki pengaruh terhadap aspek kehidupan yang lain. Aspek kehidupan beragama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi secara signifikan dengan aspek budaya yang lain. Ekspresi religius ditemukan dalam budaya material, perilaku manusia, nilai moral, sistem keluarga, ekonomi, politik, hukum, pengobatan sains dan lain sebagainya. Tidak ada aspek kebudayaan lain dari agama yang lebih luas pengaruh dan implikasinya dalam kehidupan manusia.

Sedangkan arti budaya itu sendiri meliputi tujuh perihal yang menyangkut kebiasaan manusia dan masyarakatnya. Antara satu komunitas dengan komunitas lain selalu berbeda budayanya. Kebiasaan tersebut, tidak semuanya disadari oleh masyarakatnya itu sendiri. Sehingga wajar bila ada pihak yang mencurinya, atau memaksakan kehendak untuk merubahnya. Budaya dan tradisi memiliki arti yang sekilas hampir sama, namun pada kenyataannya sangat berbeda. Kebudayaan adalah hasil karya, cipta dan rasa yang dihasilkan dari kehidupan sehari-hari oleh sekelompok masyarakat, sedangkan tradisi memiliki arti yang jauh lebih mendalam. Tradisi dapat dikatakan sebagai suatu kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.

Ketika agama disamakan dengan tradisi, maka ibadah yang dilakukan seseorang tidak akan memberikan kontribusi apa-apa terhadap prilaku/akhlak seseorang. Hal itu disebabkan ibadah yang semula bernilai sakral (bernilai keTuhanan), telah menjadi sekadar kegiatan untuk penegasan identitas pelakunya semata (terkadang juga menjadi ajang cari muka tentunya). Sebagai contoh ibadah haji, umrah, sedekah, pelaksanaan MTQ dan sebagainya telah menjadi sekadar kegiatan untuk menegaskan ke-Indonesiaan/kesukuan pelakunya. Karena menganggap ibadah-ibadah tersebut tidak memiliki nilai keTuhanan (tidak sakral), maka faktor halal-haramnya dana untuk pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut menjadi tidak penting.

Hal-hal seperti di atas sangat mudah ditemukan dalam masyarakat kita, yang menunjukkan bahwa kecenderungan menyamakan antara agama dan tradisi telah menjadi lebih dari sekadar gejala dalam masyarakat kita. Bahkan terkadang agama bukan hanya mereka samakan dengan tradisi, tetapi diletakkan pada posisi yang lebih rendah dari tradisi. Kita dapat melihat misalnya; disatu sisi alasan tradisi (budaya) begitu getol diusung oleh fihak-fihak tertentu untuk menolak undang-undang pornoaksi. Sementara disisi lainnya tidak banyak yang berani menggunakan alasan agama untuk mendukung undang-undang tersebut. Ini merupakan indikasi bahwa dalam konteks tertentu dalam masyarakat kita, kedudukan agama telah berada di bawah tradisi (budaya).

Ada perdebatan besar diantara antropolog dan agamawan yang tidak kunjung menemui satu titik sepakat hingga sekarang, yaitu mengenai agama dan kebudayaan. Apakah agama adalah bagian dari kebudayaan, atau tidak. Para antropolog berpendapat bahwa agama adalah bagian dari budaya yang secara tidak langsung menyatakan bahwa agama adalah hasil kreasi manusia. Pendapat tersebut secara spontan langsung dibantah oleh kaum agamawan yang percaya akan adanya Tuhan dengan segala perintah-Nya. Namun perdebatan ini tidak sampai menimbulkan kerusuhan dan tindakan anarkis yang merugikan masyarakat luas.

Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa agama memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Agama juga dapat masuk ke dalam aspek-aspek sosial di masyarakat seperti tradisi dan budaya. Namun, dalam pelaksanaannya, agama tidak boleh melebur dengan aspek-aspek sosial tersebut, karena agama memiliki dasar yang jauh berbeda dan merupakan prinsip hidup seseorang. Dengan adanya keseimbangan antara ketiga unsur tersebut di harapkan multikulturalisme di Indonesia tetap terjaga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: